Aku, kamu, apa

Aku dan kamu, kita duduk termangu
“Hidup begitu tega, mencabik dan menggilas tanpa kenal lelah” pikirmu.
Aku dan kamu, membenam tangan dalam rindu
“Waktu begitu lincah, berlari dan melompat tanpa terkejar” pikirku.

“Aku tidak sekuat yang kau kira.” Ucapmu. “Kau kira aku sekuat apa?” Ucapku.

Dan kita berdua terjerembap dalam siklus pertanyaan-pertanyaan yang sempurna, beradu tanpa ada jawaban. Memingit diri sendiri, jauh dari keramaian, dipisahkan tempat dan detik, tapi tetap berdua juga.

Hei, langkah kakimu itu langkah kakiku juga. Hanya, saat kamu melangkahkan kaki kirimu, aku melangkahkan kaki kananku. Tapi suatu saat kaki-kaki kecil ini pasti melangkah selaras.

Dan saat kau harus berhenti melangkah, izinkan aku ikut duduk di sebelahmu.
Dan saat kau harus menangis menderu, izinkan aku menghapus air matamu.
Dan saat kau bingung kemana harus menuju, izinkan aku memandumu.

Aku dan kamu, oleh asamnya anggur dan asinnya garam, luka kita terbakar dan meradang. Hingga terpaksa kita minta ampun dan mengerang.

Aku dan kamu, dan rasa sakit di diri. Perih yang membuat kita ada, peluh yang membuat kita nyata. Seakan tak ingin berwujud tapi takut hilang, kita hanya bisa berpegang.

Dan di saat kamu butuh lengan untuk kaupegang, izinkan aku menjulurkan lenganku untukmu.


To whomever might need this, and to my dearest friend, Caisa Nilaseca. If you read this, hang in there :)

August 10, 2011