Malam kian menelan. Semuanya begitu gelap, hanya rumah besar bernuansa etnis itu yang benderang. Biasanya ia memasuki gerbang kecil itu dengan seulas senyum di bibirnya, tapi tidak kali ini. Kakinya terasa begitu berat untuk dilangkahkan.

Dan disanalah dia berada, dengan baju sederhana dan rambut hitam yang dicat merah keunguan hanya sedikit di bagian kanan dekat dahinya. Dan ia bahkan tidak sanggup untuk melihat dia, terlalu menyesakkan. Tapi ia belum pernah melihat dia merasa segugup sekaligus sesemangat itu sebelumnya.

Orang-orang di sekitar mereka berlalu lalang, tertawa dan bercanda dengan dia. Tidak dengan ia. Tidak biasanya, ia kehabisan topik dengan dia. Baginya, dia adalah seorang Mahatma. Seorang teladan yang telah menemukan pencerahan dalam mencari keseimbangan hidup. Seorang guru, yang sedikitnya telah merubah 1/8 dari dirinya. Dirinya yang dulu sangat kaku dan memiliki hidup yang sangat stagnan, sedikit demi sedikit menjadi orang yang lebih santai dan dinamis. Dirinya yang dulu hanya kucing kecil yang lemah dia bantu berubah menjadi singa betina yang tangguh dan kuat. Hanya dengan cara bertukar pikiran.

Dan mata mereka bertemu. Ia menanamkan pandangannya dalam-dalam, menyampaikan tanya, “Belum cukup kau mengajarkanku hal-hal yang belum aku tahu, kenapa harus pergi di saat aku harus melewati berbagai cobaan mental setahun ini?” Tapi matanya seakan menjawab, “Kalau kau, pasti bisa.”

Dan waktu itu akhirnya tiba, bahkan kata-kata tidak sanggup ia keluarkan. Yang ada hanya rengkuhan peluk erat yang tidak kunjung ia sudahi. Berat. Baru 2 tahun ia mengenal dia, sang Mahatma, tapi 2 tahun itu saja seakan sudah lebih dari cukup baginya untuk menjadikan Mahatma itu adiksi pribadinya. Adiksi psikologis.

Bilur-bilur kecil air mulai membasahi mata dan pipinya. Tak bisa dijelaskan mengapa, tahu-tahu pipinya sudah basah dan ia mendapati dirinya terisak dalam pelukan dia. Peluk itu terlalu erat seakan ia tidak ingin melepaskan sebuah buku yang sangat dicintainya. Tetapi akhirnya ia melepaskan peluk itu. Ia menyadari kalau dia, sang Mahatma, harus pergi. Satu tahun dia akan meninggalkannya, untuk menambah wawasannya. Wawasan yang kelak akan dibagikannya pada ia. Ia tersenyum dan menepuk pipinya. Merelakan dia pergi untuk kelak kembali. Dan mereka saling tersenyum, tertawa renyah.

Ia melangkahkan kaki dengan ringan, dan pergi melawan malam. Yang ada hanya remang dan gandengan tangan ayahnya yang hangat. Satu tahun, pikirnya.

Bon voyage, mon Mahatma. Enjoy having adventures as you always will.

– your Lioness
  1. beeforbunga reblogged this from tenaciousdhee
  2. tenaciousdhee posted this
August 24, 2011