Kerupuk

Mata kami berpagutan, berambisi menjatuhkan satu sama lain. Tak lama pandanganku memudar. Rupanya lapisan air tipis ini yang menghalangi, mendifusikan cahaya yang masuk ke mataku sehingga semuanya terlihat buram. Suram. Aku beranjak dari meja, tanpa menghiraukan lapisan air yang tertahan di mataku.

“Aku butuh tidur”
“Aku butuh kamu.”
“Aku butuh kerupuk! Sebenarnya aku butuh itu!”

Dan kamu tertunduk melas, menggigit kuku dari jemari panjangmu untuk mengalihkan ketegangan syaraf, mengurangi rasa ragu. Merasa bersalah melihatmu, aku kembali duduk di depanmu dengan mulut terkunci rapat. Kini lapisan air di mataku sudah hilang. Ya, padahal baru 15 menit yang lalu kita makan kerupuk-kerupuk putih itu bersama-sama. Tanpa bicara, hanya makan, saling berpandangan dan melempar senyum. Semua berubah saat tiga atau empat kerupuk terakhirku terasa melempem. Aku terus memakan hingga habis semua kerupuk yang tersisa, tapi semuanya terasa melempem.

“Kerupukmu melempem.”
“Tidak, tidak mungkin.”
“Kerupukmu melempem!”
“Tidak! Itu hanya persepsimu saja. Ya mungkin ada satu atau dua yang betul-betul melempem, tetapi sisanya tidak. Aku menutup toplesku rapat-rapat.”

Aku bingung. Apa yang harus kupercaya? Omonganmu yang begitu meyakinkan, atau logika yang melihat kenyataan bahwa toples itu tidak bertutup, mulutnya yang ternganga hanya dilapisi plastik transparan yang diberi karet. Udara masih bisa masuk, mencuri kerenyahan kerupuk itu. Membuat semuanya melempem.

“Atau lidahmu yang sudah bosan memakan kerupuk-kerupuk buatanku terus menerus sehingga membuat kerupuk ini terasa melempem?” Tanyamu, pandangannmu begitu tajam.
“Tidak, tidak. Tidak”

Aku diam sejenak, berpikir mencari sanggahan

“Melempem atau tidak, kerupukmu sudah habis.”
“Astaghfirullah, besok aku bawakan lagi sayang. Aku janji akan aku bawakan kamu kerupuk tiap hari.”
“Aku butuh sekarang!”
“Diam, rakus!”

Kini lapisan itu muncul lagi. Memudarkan wajahmu yang merah padam dan berkeringat di depanku. Ya, betul, tumpahkan saja amarahmu, pikirku. Dan akupun meluruhkan lapisan yang daritadi tertahan di mataku.

“Hei. Maaf ya? Cup cup”

Katamu menaruh tanganmu atasku dan mengelusnya pelan. Wajahmu kini begitu tenang, memendarkan senyuman nakal yang manis. Entah kenapa ingin tertawa aku melihatnya.

“Lihat meja ini. Lihat remah-remah kerupuk yang tertinggal. Mereka tetap kerupuk kan? Remah ini cukup untuk besok. Tinggal masalahnya, mau dimakan atau dibuang?”

Bagaimanapun remah kerupuk itu menganggur terlalu lama di meja yang mengkilap itu. Aku rentangkan jariku dan kuambil sejumput remah itu sambil tersenyum, walaupun isakku belum habis.

“…Kumakan… Sebelum melempem”
“Sudah kubilang, tidak melempem. Tidak akan pernah.”

Senyuman itu lagi. Tidak pernah tidak aku meleleh setiap kau ledakkan senyum anak kecil itu. Tak cukup rasanya senyumku mengembang, membalas ledakkan besar itu dengan letupan kecil.

Terima kasih, 13 kerupuk sudah kumakan. Dan masih aku lapar. Kutunggu kerupuk berikutnya, Bimo.

August 25, 2011